mabar.online Industri game global tengah diguncang kabar besar dari Ubisoft. Perusahaan raksasa asal Prancis ini dikabarkan melakukan perombakan internal secara masif, mulai dari penutupan studio, pembatalan proyek, hingga perubahan arah strategi pengembangan game. Langkah tersebut memicu banyak pertanyaan, terutama terkait masa depan sejumlah judul besar yang selama ini menjadi tulang punggung perusahaan.
Situasi ini memperlihatkan bahwa bahkan publisher kelas dunia pun tidak luput dari tekanan industri. Perubahan perilaku pemain, biaya produksi yang semakin tinggi, serta persaingan ketat antar pengembang membuat Ubisoft harus mengambil keputusan sulit demi mempertahankan stabilitas jangka panjang.
Perombakan Besar dalam Struktur Internal
Dalam dokumen internal yang beredar, Ubisoft disebut tengah melakukan restrukturisasi besar-besaran. Beberapa studio dikabarkan harus ditutup, sementara tim pengembangan lain digabung atau dialihkan ke proyek berbeda. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya efisiensi sekaligus penyelarasan dengan strategi baru perusahaan.
Langkah tersebut tentu berdampak besar bagi karyawan dan ekosistem internal Ubisoft. Banyak pengembang yang sebelumnya mengerjakan proyek ambisius kini harus menghadapi ketidakpastian. Di sisi lain, manajemen menilai langkah ini sebagai keputusan penting agar perusahaan tidak terus terbebani proyek jangka panjang yang tidak kunjung rampung.
Enam Proyek Game Resmi Dibatalkan
Salah satu poin paling mengejutkan adalah pembatalan enam proyek game yang sebelumnya masih berada dalam tahap pengembangan. Proyek-proyek ini dinilai tidak lagi sejalan dengan visi baru perusahaan yang ingin lebih fokus pada model game berkelanjutan.
Pembatalan ini mencerminkan perubahan besar dalam pola pikir Ubisoft. Jika sebelumnya perusahaan dikenal agresif mengembangkan banyak judul sekaligus, kini pendekatan tersebut mulai dianggap berisiko tinggi. Fokus beralih ke kualitas, daya tahan game, dan potensi monetisasi jangka panjang.
Penundaan Tujuh Judul yang Masih Berjalan
Tak hanya pembatalan, Ubisoft juga menunda tujuh judul lain yang masih dalam proses produksi. Penundaan ini dilakukan untuk memberi waktu tambahan dalam pengembangan, evaluasi konsep, hingga penyempurnaan sistem permainan.
Bagi pemain, kabar ini tentu memunculkan rasa kecewa. Namun bagi Ubisoft, keputusan menunda dianggap lebih baik dibanding merilis game yang belum matang. Dalam beberapa tahun terakhir, kritik terhadap kualitas rilis awal menjadi salah satu tantangan besar yang ingin dihindari perusahaan.
Nasib Remake Prince of Persia Jadi Sorotan
Remake Prince of Persia The Sands of Time menjadi contoh paling nyata dari gejolak internal Ubisoft. Proyek ini pertama kali diumumkan dengan antusias tinggi, namun respons negatif terhadap trailer awal membuat perusahaan harus melakukan evaluasi menyeluruh.
Pengembangan yang semula ditangani Ubisoft Mumbai dan Ubisoft Pune kemudian dipindahkan ke Ubisoft Montreal, studio yang menggarap versi klasiknya. Perpindahan ini menunjukkan betapa seriusnya Ubisoft ingin menyelamatkan reputasi franchise legendaris tersebut, meski harus mengorbankan waktu dan biaya tambahan.
Fokus Baru pada Open World dan Live Service
Dalam arah strategi terbarunya, Ubisoft menegaskan fokus pada game open-world dan live-service. Model ini dianggap mampu menjaga keterlibatan pemain dalam jangka panjang sekaligus memberikan pemasukan berkelanjutan.
Pendekatan tersebut sebenarnya bukan hal baru bagi Ubisoft. Beberapa franchise besar seperti Assassin’s Creed dan The Division telah lebih dulu mengadopsi konsep serupa. Namun kini, strategi ini dijadikan fondasi utama perusahaan, bukan sekadar pelengkap.
Pemanfaatan AI Generatif dalam Pengembangan
Hal menarik lainnya adalah rencana pemanfaatan kecerdasan buatan generatif. Ubisoft melihat teknologi ini sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi produksi, mempercepat pembuatan konten, serta menghadirkan pengalaman bermain yang lebih personal bagi pemain.
Meski begitu, penggunaan AI juga memicu perdebatan. Sebagian komunitas khawatir kreativitas manusia akan tergeser, sementara pengembang menilai AI seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti. Ubisoft menyatakan bahwa teknologi ini akan difokuskan untuk membantu tim, bukan menghilangkan peran kreator.
Tekanan Industri Game Global
Langkah drastis Ubisoft tidak terjadi tanpa sebab. Industri game global sedang mengalami fase koreksi besar. Banyak perusahaan menghadapi lonjakan biaya produksi, ekspektasi pemain yang semakin tinggi, serta risiko kegagalan yang makin besar.
Beberapa publisher besar bahkan telah lebih dulu melakukan PHK massal dan restrukturisasi. Dalam konteks ini, keputusan Ubisoft mencerminkan kondisi industri secara keseluruhan, bukan sekadar masalah internal semata.
Dampak terhadap Reputasi dan Kepercayaan Pemain
Restrukturisasi besar tentu berdampak pada persepsi publik. Pemain kini menaruh perhatian lebih pada konsistensi kualitas dan kejelasan arah pengembangan. Kegagalan memenuhi ekspektasi dapat berujung pada penurunan kepercayaan, terutama bagi franchise lama yang memiliki basis penggemar setia.
Di sisi lain, jika strategi baru ini berhasil, Ubisoft berpeluang bangkit lebih kuat. Fokus yang lebih sempit namun terarah bisa menghasilkan game dengan kualitas lebih stabil dan umur panjang.
Masa Depan Ubisoft Masih Terbuka
Gonjang-ganjing yang terjadi menunjukkan bahwa Ubisoft sedang berada di persimpangan penting. Keputusan menutup studio, membatalkan proyek, dan mengubah arah bisnis bukan langkah mudah, namun bisa menjadi fondasi baru bagi perusahaan.
Bagi industri game, situasi ini menjadi pengingat bahwa skala besar tidak selalu menjamin keamanan. Adaptasi, efisiensi, dan keberanian mengambil keputusan sulit menjadi kunci bertahan di tengah perubahan zaman. Kini, perhatian publik tertuju pada langkah berikutnya yang akan menentukan apakah Ubisoft mampu kembali bangkit atau justru semakin tertekan.

Cek Juga Artikel Dari Platform iklanjualbeli.info
